Mengajari Anak Tentang Bullying Sejak Dini

cuka apel stop buliying

 

Bullying atau penggencetan merupakan masalah yang sudah membumi semenjak dulu dan semakin menjadi-jadi belakangan. Dengan semakin banyaknya kualitas tontonan acara televisi yang tidak bermutu dan akses internet video-video tentang penggencetan, kasus bullying pun semakin sering ditemui di kalangan anak-anak sekolahan dari sekolah dasar hingga menengah ke atas.

 

Menurut artikel yang ditulis dalam Fox News, para ahli menemukan kasus bullying ini bahkan sudah ditemukan pada siswa taman kanak-kanak dimana anak-anak kecil ini mengolok-olok rekannya karena hal-hal kecil. Karenanya penting bagi orang tua untuk memberikan pendidikan mengenai bullying semenjak dini.

Tidak semua hal termasuk dalam penggencetan.

Hindari menyebut anak anda melakukan penggencetan atau bullying ketika ia merebut mainan dari temannya atau mendorongnya saat bermain. Menurut Diane Lang, seorang psikoterapi, anak kecil melakukan hal seperti ini adalah normal. Anak anda melakukan hal tersebut karena dorongan dari dalam dirinya, dan hal ini memang alami dilakukan oleh anak kecil.

Berikan contoh yang baik.

Lang menjelaskan bahwa ketika seorang anak menjadi bully adalah karena orang tua atau seseorang di lingkungan hidupnya melakukan hal semacam ini. Anak kecil belajar melalui imitasi, pengamatan dan contoh dari orang-orang di sekitarnya. Anak kecil tidak tahu bahwa hal yang dilakukannya itu tidak baik jika ia tidak tahu konsekuensi apa yang akan dihadapinya setelahnya.

Jadi anda sebagai orang tua harus berpikir ulang hal-hal yang akan anda ucapkan dan memberikan contoh sikap yang baik pada orang lain. Ketika anak anda melakukan hal yang buruk, jelaskan mengapa hal tersebut salah dan bagaimana hal tersebut dapat menyakiti orang lain.

Memberikan contoh melalui media seperti buku atau video mengenai bullying lalu mengajak anak untuk sharing. Berikan pertanyaan seperti, “Menurut adik, kenapa kok Andi mukul Jennifer gitu?”

Menyediakan tontonan yang sehat seperti Jalan Sesama atau  Unyil juga merupakan cara yang baik untuk mengajarkan anak mengenai perbedaan dan bahwa ketidaksamaan itu baik.

Mengikuti kegiatan sosial bersama-sama.

Anak-anak biasanya memang tidak bisa diam, karenanya anda bisa mengajarinya untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial di lingkungan masyarakat sekitar rumah, dengan cara ini anda dapat mengajarkan pada anak bahwa orang itu ada bermacam-macam. Mengikuti kegiatan sosial seperti kerja bakti, penanaman tanaman di hari lingkungan hidup atau pembagian sembako, serta kegiatan-kegiatan sosial lainnya yang tujuannya membantu orang lain, kegiatan seperti ini akan membantu orang tua untuk mengajari anak cara menghormati orang lain dan menghormati dirinya sendiri.

Mengajarkan anak cara bersosialisasi.

Ahli perkembangan anak dan penulis Growing Happy Kids: How to Foster Inner Confidence, Success and Happiness, Maureen Healy mengatakan lawan dari penggencetan dan bullying adalah bekerjasama. Mengajarkan pada anak bagaimana caranya berbagi dan berbuat baik ke orang lain adalah cara yang terbaik untuk mengajarkan bahwa perasaan orang lain itu juga penting. Mengikutkan anak dengan pre-school, bermain di taman lokal dan taman kanak-kanak merupakan cara yang baik mengajarkan cara bersosialisasi sejak dini pada anak.

Biarkan mereka belajar sendiri.

Sering kali anak-anak yang menjadi penggencet karena mereka tidak tahu bagaimana caranya mengekspresikan perasaannya dan orang tua pun tidak membantu mereka mengatasi masalahnya sendiri. Jadi, ajarkanlah pada anak bahwa marah, frustasi, takut dan sedih adalah perasaan yang normal selama perasaan seperti itu tidak dilampiaskan ke orang lain.

Saat balita, dengan tidak ikut-ikut tiap kali anak tidak bisa mengambil mainannya lalu membiarkannya mengambilnya sendiri akan membuat anak menjadi lebih independen dan tidak melakukan penggencetan nantinya.

Pentingnya menjadi tegas.

Anak-anak korban penggencetan adalah mereka yang kurang percaya diri dan lebih patuh, dimana hal ini membuat ketegasan menjadi aspek penting yang harus dimiliki seorang anak dan orang tua perlu terlibat dalam pengajarannya pada anak. Ingat, tegas bukan berarti agresif. Anak harus bisa melakukan kontak mata, berdiri tegak dan berbicara dengan tenang, jadi ketika mungkin nanti anak didorong oleh anak lain di taman bermain, ia bisa berkata, “Aku nggak suka didorong gitu, jangan dorong-dorong aku lagi.” Anak anda juga harus diberitahu untuk tidak takut bercerita pada orang tua atau guru mengenai kelakuan anak lainnya.