Tes Microchip Pertama Pada Manusia Berhasil

cuka apel microchip

 

Seiring dengan majunya teknologi komunikasi, teknologi medis juga terus berkembang dalam memberikan inovasi perawatan berbagai macam penyakit. Seperti penanaman microchip sebagai pengganti suntikan yang biasa diberikan untuk perawatan beberapa penyakit seperti diabetes, rematik artritis dan lainnya. Penelitian ini dilakukan oleh para peneliti dari Institut Teknologi Massachusetts (MIT).

 

Ditulis Health, dipublikasikan secara online di situs Science Translational Medicine, percobaan ini dilangsungkan di Denmark pada tujuh wanita berusia 60-an yang dipasangi microchip yang melepaskan obat berupa 19 dosis pengobatan jalan osteoporosis yang mereka jalani.

Microchip ini berbentuk kecil dan mempunyai semacam lubang penyimpanan yang dikonsentrasikan, pada permukaan kerangka titaniumnya tersimpan baik pengobatan kering yang dibekukan, alat ini juga memiliki pemancar wireless yang berhubungan dengan komputer portable kecil. Setiap lubang penyimpanan berisi dosis pengobatan bagi pasien dan dikunci menggunakan selaput tipis dari metal.

Microchip dipasangkan pada tubuh pasien sedalam satu inchi melalui operasi luar yang hanya membutuhkan bius lokal. Dengan dipasangnya microchip ini, pasien tidak lagi harus menjalani berbagai ritual suntikan yang biasanya meninggalkan ruam. Pelepasan obat diinstruksikan melalui komputer, implant microchip akan mengirim sinyal listrik pada selaput metal dan mencairkannya agar cairan tubuh dapat memasukilubang penyimpanan dan obat dapat disebarkan ke seluruh tubuh. Selaput metal yang digunakan pada microchip ini akan kembali mengeras setelah dicairkan dan tidak ikut dilepaskan sehingga tidak akan terdapat kandungan metal pada tubuh nantinya.

Percobaan ini mendapat respon positif dan tanggapan yang menyenangkan dari para partisipan yang membawa impan microchip itu selama 103 hari (20 hari adalah hari penginjeksian obat melalui microchip). Setidaknya 94% percobaan ini berhasil memberikan suntikan pengobatan pada para pasien wanita pasca menopause yang memiliki osteoporosis ini. Satu kasus terjadi dimana terdapat sumbatan pada microchip sehingga obat tidak dapat dilepaskan, hal ini langsung diketahui melalui pemancar wireless yang mengirimkan proses pelepasan secara langsung.

Namun, meskipun dengan adanya microchip ini membuat beberapa partisipan merasa seperti tidak dipasangi apa pun dan sangat senang dengan pengobatan bagi tulangnya, microchip ini tidak akan dilepaskan untuk pengobatan umum sampai pengujian lebih lanjut. Penulis pembantu, Robert Langer, Jr., Sc.D. yang diwawancarai berkenaan dengan percobaan ini menyatakan bahwa meski microchip ini dapat bertahan selama setidaknya 30-90 hari (dengan desain yang ada saat ini sampai 365 hari), masih diperlukan penyetelan lagi untuk menstabilkan kinerja microchip ini.

Alat yang didapatkan inspirasinya dari microchip komputer ini mulai digarap dari 15 tahun yang lalu dan memang merupakan terobosan yang luar biasa dalam bidang medis. Kapan ya Indonesia bisa segera mengembangkan pengobatan melalui microchip ini.